Kompetensi Utama

Layanan


Awan Tsunami di Langit Makassar Pertanda Ini, Simak Penjelasan LAPAN dan Astronom Amatir
Penulis : Kompas.com/ Iksan Fauzi • Media : tribunnews.com • 02 Jan 2019 • Dibaca : 166 x ,

SURYA.co.id - Fenomena munculnya awan tsunami, yakni awan besar mirip gelombang tsunami pada sore pertama di tahun 2019 mengejutkan warga Kota Makassar (Sulawesi).

Seperti diberitakan Kompas.com sebelumnya, prakirawan BMKG wilayah IV Makassar, Nur Asia Utami mengatakan bahwa awan tsunami itu tergolong sebagai Awan Cumulonimbus besar.

"Peristiwa tersebut dikenal sebagai cell Awan Cumulonimbus yang cukup besar, biasanya menimbulkan hujan deras disertai kilat atau petir dan angin kencang. Periode luruhnya awan tersebut tergantung besarnya, bisa 1-2 jam," katanya Rabu pagi (2/1/2019).

Hal yang sama pun dibenarkan oleh astronom amatir Marufin Sudiboyo.

"Itu supercell, fenomena meteorologi khas musim pancaroba," katanya kepada Kompas.com, Rabu (2/1/2018).

"Jadi itu Awan Cumulonimbus atau awan penyebab hujan deras atau badai, yang bergerak berpusar lambat akibat terbentuknya sistem tekanan rendah siklonik setempat," sambungnya.

Ia menambahkan, pembentukan awan tsunami di Makassar itu sebenarnya sama seperti Awan Cumulonimbus lain. Hanya saja ada beberapa faktor pembeda, misalnya zona tekanan rendah lokal.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin menambahkan, awan berbentuk gelombang tsunami terbentuk karena adanya interaksi udara hangat yang mengandung uap air dan lingkungan dingin di ketinggian tertentu.

Bentuk awan

Bentuk Awan Cumulonimbus sendiri pada dasarnya dapat beraneka ragam dan tidak tentu. Semuanya tergantung pada kecepatan dan arah angin pembentukannya.

"Awan kumulo (bertumpuk-tumpuk) nimbus (sumber hujan) terbentuk karena dorongan angin yang kuat, mengangkat uap air sampai menjulang tinggi," kata Thomas kepada Kompas.com melalui pesan singkat.

Kalau awan yang tertangkap kamera bentuknya seperti gelombang tsunami, itu sebenarnya karena pola dinamika atmosfer dan sudut pandang melihat atau pengambilan gambar saja.

"Bentuk umum Awan Cumulonimbus itu kan seperti bulu domba yang bertumpuk-tumpuk. (Kalau yang tertangkap kamera) bentuknya seperti gelombang tsunami, bila dilihat dari arah lain pasti bentuknya berbeda," tegas Thomas.

Dampak Awan Cumulonimbus yang besar

Thomas mengatakan, secara umum tidak ada dampak yang perlu dikhawatirkan dari awan seperti ini. Namun, kita tetap harus waspada.

"Awan kumulonimbus yang gelap menunjukkan kandungan uap air yang banyak, sehingga bila jatuh akan tercurah sebagai hujan lebat," katanya.

Marufin mengatakan, ada beberapa awan kumulonimbus yang bisa melahirkan angin puting beliung.

Berkaitan dengan itu, Thomas menjelaskan bahwa angin puting beliung biasanya dipicu oleh awan kumulonimbus yang menjulang tinggi kemudian berinteraksi dengan angin di sekitarnya.

"Sementara awan yang melebar seperti bentuk gelombang tsunami, kecil kemungkinan menyebabkan angin puting beliung," tutupnya.











Sumber :  http://surabaya.tribunnews.com/2019/01/02/awan-tsunami-di-langit-makassar-pertanda-ini-simak-penjelasan-lapan-dan-astronom-amatir?page=2.








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL