Kompetensi Utama

Layanan


Menyambut Era Luar Angkasa
Penulis : Muhammad Ainul Yaqin • Media : rmol.co • 14 Jan 2019 • Dibaca : 3077 x ,

MENGAWALI tahun 2019, peradaban manusia mencatatkan sejarah baru dalam ekplorasi keantariksaan. Untuk pertama kalinya manusia berhasil mendaratkan pesawat ruang angkasa di sisi terjauh bulan yang belum pernah terungkap. Ilmuan menamainya sisi gelap bulan karena selama ini sisi yang sama dari bulan selalu menghadap ke bumi menyisakan sisi di baliknya menjadi misterius. Wilayah ini tidak dapat terlihat langsung dari bumi sehingga belum banyak dipelajari.

Chang'e 4, wahana antariksa asal Tiongkok yang pada hari Kamis (3/1/2019) lalu sukses mendarat di kutub selatan bulan tepatnya di lembah Aitken. Chang'e, yang dalam mitologi Tiongkok berarti dewi bulan, membawa rover yang siap menjelajah permukaan bulan. Dalam misinya, Chang'e 4 akan mengungkap asal mula terbentuknya bulan serta menjawab keberadaan air di permukaannya.

Selain itu, kendaraan ruang angkasa ini membawa bibit bunga Arabidopsis, kentang, hingga telur ulat sutera untuk melihat apakah mereka dapat tumbuh di gravitasi bulan yang rendah. Jika berhasil, bunga pertama yang tumbuh di bulan akan menjadi tanda positif bahwa makhluk hidup dapat tumbuh di sana. Hal ini akan menjadi cikal bakal kolonisasi bulan oleh manusia.

Tampaknya keberhasilan misi Chang'e masih akan terus berlanjut, Tiongkok berencana meluncurkan Chang'e 5 pada akhir tahun 2019 dengan maksud membawa pulang beberapa sampel dari bulan. Keberhasilan Tiongkok dalam melangsungkan misi Chang'e tidak lepas dari ambisi negeri Tirai Bambu tersebut untuk menjadi yang terdepan dalam eksplorasi ruang angkasa menyaingi Amerika Serikat dan Rusia.

Perlombaan Ruang Antariksa

Manusia sejatinya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, menyukai penjelajahan, menemukan dunia yang baru, hingga mencapai batas-batas keilmuan yang dimiliki. Hasrat untuk mengeksplorasi telah membawa banyak manfaat bagi peradaban manusia. Tantangan yang dihadapi dalam eksplorasi luar angkasa telah melahirkan banyak teknologi mutakhir, menciptakan industri, bahkan menyatukan identitas sesama umat manusia.

Jika di masa lalu, ruang angkasa dilihat sebagai tempat untuk berkompetisi dan menjadi simbol kebanggaan sebuah negara. Hal ini tidak lepas dari perang dingin yang terjadi antara Amerika Serikat dan Uni Soviet yang dimulai tahun 1960-an. Maka pada abad ke 21, ruang angkasa telah berubah menjadi tempat bersatunya negara-negara. Stasiun Luar Angkasa International (ISS) yang didirikan pada tahun 2000 adalah wilayah baru peradaban manusia yang menjadi simbol kerjasama antar negara dunia yang dulunya saling berkompetisi. Sebagai laboratorium ruang angkasa milik bersama, ISS berfungsi sebagai tempat penelitian pelbagai macam ilmu. Hal ini lebih baik dari pada memanfaatkan ruang angkasa untuk kegiatan militer semata.

Selain itu, antariksa juga dilihat sebagai sebuah potensi industri baru. Berwisata di luar angkasa dan aktivitas penambangan diprediksi akan menjadi tren baru dalam beberapa dekade mendatang. Hal ini tidak lepas dari semakin banyaknya pihak swasta yang mulai telibat dalam litbang keantariksaan. 50 tahun lalu, riset mengenai ruang angkasa dikuasai oleh pemerintah dari negara maju, namun sekarang kondisi tersebut berubah. Kemunculan Elon Musk dengan perusahaan SpaceX-nya serta Jeff Bezos dengan Blue Origin menjadi sinyal bahwa ruang angkasa tidaklah eksklusif untuk pemerintah saja melainkan swasta dapat terlibat di dalamnya. Saat ini, baik SpaceX maupun Blue Origin tengah berlomba menyiapkan roket yang akan menerbangkan wisatawan ke luar angkasa. Diprediksi bahwa pada tahun ini kita akan menyaksikan turis pertama yang bepergian ke luar angkasa.

Lebih lanjut, luar angkasa menyimpan kekayaan mineral yang siap untuk diekplorasi. Sadar akan hal tersebut, negara Luxemburg bergerak cepat dengan membuat kerangka hukum eksploitasi sumber daya alam di luar angkasa. Hasilnya, tercatat ada lebih dari 10 perusahaan tambang luar angkasa yang berbasis di negara kecil di Eropa ini. Bahkan industri ini telah menyumbang 1.8 persen GDP negara tersebut.

Kompetisi di antara perusahaan swasta dan pemerintah membuat industri luar angkasa semakin diminati. Harga peluncuran sebuah roket ke luar angkasa menjadi semakin murah. Sebagai contoh, SpaceX dengan roket Falcon 9 dapat beroperasi hanya dengan 60 juta USD per penerbangan, jauh lebih murah dari perusahaan manapun. Kondisi seperti ini sangat menguntungkan bagi banyak negara, salah satunya Indonesia yang pada Agustus 2018 lalu menggunakan jasa SpaceX untuk meluncurkan satelit Merah Putih milik PT. Telkom Indonesia.

Sudah Sejauh Mana Indonesia?

Melihat laporan OECD Space and Innovation 2016, Amerika Serikat dan Rusia masih mendominasi dalam hal jumlah anggaran tahunan untuk aktivitas keantariksaan dengan nilai total lebih dari 40 miliar dolar AS, disusul negara-negara uni eropa, India, Jepang, dan Tiongkok. Anggaran ini dipakai untuk mendanai infrastruktur umum seperti pemantauan cuaca dan navigasi, layanan komersial seperti satelit telekomunikasi, hingga riset dan eksplorasi luar angkasa.

Sementara itu, menurut Euroconsult 2016, Indonesia menjadi negara dengan anggaran keantariksaan terbesar di Asia Tenggara dengan nilai lebih dari 50 juta dolar AS.

Jika Amerika Serikat punya NASA, Rusia punya Roscosmos maka Indonesia punya LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) sebagai lembaga yang bertanggung jawab mengembangkan penelitian dan pengembangan di bidang antariksa. Sampai saat ini LAPAN berfokus pada pengembangan kompetensi penginderaan jarak jauh, pembuatan satelit telekomunikasi dan mitigasi bencana, dan pengembangan roket sipil. Hal ini tidak lepas dari fakta bahwa Indonesia masih memerlukan banyak satelit komunikasi untuk menjangkau pulau-pulaunya. Lebih lanjut, Indonesia telah siap menyambut era luar angkasa dengan diterbitkannya UU 21/2013 tentang aktivitas luar angkasa. UU ini dibuat untuk mengatur kegiatan luar angkasa mulai dari sains hingga kegiatan komersil antariksa.

Walaupun begitu, Indonesia dihadapkan pada berbagai tantangan seperti kebijakan internasional yang membatasi transfer teknologi luar angkasa, minimnya industri dalam negeri yang membuat komponen keantariksaan, belum tersedianya bandara riset untuk uji coba hasil litbang, hingga indeks pembangunan manusia yang masih rendah.

Oleh karena itu, Indonesia harus cepat merespon dengan mempersiapkan sumber daya manusia yang mumpuni serta memperkuat kerjasama internasional mengingat posisi negara Indonesia yang sangat strategis sebagai tempat peluncuran wahana luar angkasa. Sehingga nantinya, Indonesia dapat lebih berkontribusi dalam aktivitas keantariksaan serta menikmati pencapaian umat manusia dalam menggapai angkasa. [***]







Sumber : https://www.rmol.co/read/2019/01/14/374914/Menyambut-Era-Luar-Angkasa-








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL