Kompetensi Utama

Layanan


Dukungan Data Satelit untuk Memantau Nusantara
Penulis Berita : Humas/RB • Fotografer : Humas/MN • 27 Mar 2019 • Dibaca : 4219 x ,

Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin memberikan sambutan.

"Partnertship (kemitraan) adalah hal yang mutlak dilakukan untuk tercapainya Sustainable Development Goals (SDGs). Dengan kondisi yang damai kita bisa menjalin kerja sama dengan berbagai pihak untuk tercapainya SDGs". Hal tersebut diungkapkan Menteri PPN/ Kepala Bappenas, Prof. Bambang Soemantri Brodjonegoro pada sambutannya dalam acara Workshop on Earth Observation with Satellite Imager di Jakarta pada Rabu (27/3). LAPAN memiliki tugas dalam agenda SDGs, yaitu dengan memanfaatkan penggunaan citra satelit. Citra satelit sangat bermanfaat untuk mendukung kegiatan pembangunan di berbagai sektor, antara lain : infrastruktur, pertanian, kehutanan, dan kemaritiman serta untuk kebencanaan seperti pencegahan bencana, mitigasi bencana dan tanggap bencana.

Indonesia harus beradaptasi dan bermitigasi dengan memanfaatkan citra satelit. Contoh terbaru yaitu cuaca ekstrim yang menyebabkan bencana di Danau Sentani, Papua. Indonesia adalah negara dengan wilayah lautan lebih luas dari daratan sehingga 2/3 lingkungan laut harus diberi perhatian yang lebih. Selain potensi ikan (Sumber Daya Alam), juga potensi bencana seperti pergerakan di bawah laut contohnya peristiwa Gunung Anak Krakatau. Sedangkan di wilayah daratan Indonesia, komoditas pertanian harus dikembangkan secara modern dengan menggunakan citra satelit untuk memantau perkembangan tanaman yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas pangan.

Perencanaan wilayah memegang peranan penting, dikarenakan lebih dari 50% orang Indonesia tinggal di perkotaan sehingga membutuhkan perencanaan tata wilayah. Citra satelit sangat diperlukan untuk melakukan pemetaan wilayah dan kondisi wilayah yang akan dibangun sehingga dapat menyusun perencanaan pembangunan yang efisien. LAPAN juga berkontribusi dalam produksi pangan dengan membantu petani untuk penentuan data luasan tanah yang berguna bagi produksi stok pangan, serta membantu kelancaran distribusi hasil pertanian.

Bencana alam contohnya kebakaran hutan akan selalu terjadi, maka Indonesia harus meningkatkan mitigasinya dan peringatan dini melalui citra satelit yang dapat memperhitungkan seberapa besar ancamannya kepada penduduk. Migrasi ikan serta ancaman rusaknya terumbu karang dapat diekspos dengan bantuan citra satelit sehingga mampu meningkatkan produksi ikan nasional serta menjaga ekosistem laut melalui pemetaan terumbu karang. Data satelit sangat berguna untuk mencegah bencana seperti potensi longsor, abrasi, dan deforestasi / pengurangan tanaman bakau.

“LAPAN mendapatkan amanat dalam Instruksi Presiden (Inpres) No. 6 Tahun 2012 dan UU No. 21 Tahun 2013 tentang keantariksaan, LAPAN harus menyediakan data citra satelit penginderaan jauh untuk kebutuhan nasional.” Pembukaan sambutan itu diungkapkan Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin. Sebagai penyedia citra satelit, dengan adanya SDGs, LAPAN memperkuat kapasitas kelembagaan. LAPAN melakukan pendekatan dan komunikasi intensif dengan berbagai pemangku kepentingan. Semua data yg dimiliki dan dipasok oleh LAPAN juga data yang disediakan secara mandiri oleh pihak lain yang berkoordinasi dgn LAPAN. LAPAN mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Terkait perairan, LAPAN telah menyediakan data citra satelit yang bermanfaat seperti Zona Potensi Penangkapan Ikan (ZPPI). Terkait daratan, LAPAN berkontribusi dengan memberikan informasi kondisi yg d butuhkan bagi tiap2 daerah.

LAPAN juga menyediakan aplikasi ponsel pintar berbasis Android untuk mitigasi bencana, selaras dengan Revolusi Industri 4.0 . LAPAN akan melakukan penerapan pengelolaan SDGs center yang berkoordinasi dengan Bappenas. LAPAN bertugas mengkoordinasi dan mengakomodir kebutuhan Kementerian dan Lembaga sesuai dengan kesepakatan kerja sama LAPAN dengan Planet Lab.

“Kita tidak bisa memperbaiki apa yang tidak terlihat, maka dari itu kita harus memantau setiap hari.” Ujar Planet Lab. Asia Tenggara. “Kita harus mengenali masalahnya, kita diharuskan membuat keputusan tepat waktu tetapi apabila memiliki data yang tidak tepat, maka akan menyebabkan kurangnya wawasan.” Menurutnya, pemantauan dengan satelit lama yang kurang canggih menyebabkan cakupan terbatas, peninjauan kembali yang rendah, akses tidak efisien, hambatan sinyal terlalu banyak dan kebisingan yang mengganggu disaat itu juga kita harus menerima data yang akurat. Dengan citra satelit yang memantau secara kontinyu, kita bisa mengetahui perubahan apa yg terjadi secara real time tanpa delay. Seperti ilegal logging, tanggap bencana, dan untuk keperluan intelijen.

Planet Lab. Menyediakan data citra satelit yg dibutuhkan bagi Negara, Swasta, Non-Government Organization (NGO), dan siapapun dengan biaya yang lebih terjangkau. Planet Lab. mendesain, memproduksi, dan mengoperasikan satelit milik sendiri yang diberi nama “Dove” ada lebih dari 150 satelit dan 31 stasiun bumi. Pihak Planet Lab. tidak menunggu satelit yang dibuat untuk diluncurkan, tapi menentukan kapan peluncurannya terlebih dahulu. Konstelasi bumi terhadap satelit terus terjadi, mengambil data citra setiap hari. Beberapa contoh pemanfaatan satelit “Dove” adalah bidang pertahanan, perbatasan, kamera pengintai, bidang ekonomi, deforestasi, pipa saluran, dan infrastruktur. Planet Lab. Memiliki sejumlah satelit yaitu Rapideye, Dove, dan Skysat.



Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL