Kompetensi Utama

Layanan


FGD Penyusunan Cetak Biru Industri Dirgantara Nasional
Penulis Berita : humas/ZK • Fotografer : humas/ZK • 16 Apr 2019 • Dibaca : 4662 x ,

Prof. Thomas Djamaluddin saat memberikan sambutannya pada FGD Pre Summit 2019

LAPAN selenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Pre-Summit 2019 dengan tema “Penyusunan Cetak Biru Industri Dirgantara Nasional di Gedung BPPT II Jl. Thamrin N0.8 Jakarta Pusat, DKI Jakaarta, pada Selasa (16/04). Kepala Pusat Penerbangan, Gunawan Setyo Prabowo selaku ketua panitia dalam sambutannya menyampaikan tiga faktor pendorong diselenggarakannya Pre-Summit tersebut yaitu menuntaskan komitmen penyelesaian sertifikasi N219 sampai pemasarannya, mendorong tumbuhnya sinergi berbagai asosiasi terkait industri perekayasaan, pembuatan, dan pemeliharaan pesawat terbang dengan stakeholder serta meningkatkan koordinasi di lingkungan instansi terkait baik pemerintah maupun swasta.

Acara ini merupakan tindaklajut dari pertemuan Aerosummit 2018 yang diharapakan dapat menghimpun road map yang sudah ada untuk menjadi cetak biru.” Berbagai usulan dan masukkan dari peserta, narasumber, dan stakeholder yang hadir sangatlah penting sehingga nantinya harus ada office kedirgantaraan mulai dari hulu sampai hilir dengan terbentuknya Satgas atau pokja-pokja yang menyusun cetak biru”, imbuh Gunawan.

Sementara itu, Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, dalam pembukaan acara menyampaikan bahwa pertemuan FGD penyusunan Cetak Biru Industri Dirgantara Nasional menyatukan pandangan para peneliti, kalangan pelaku industri dan pemangku kebijakan guna membangun sinergi positif karena teknologi dirgantara termasuk teknologi high risk, high cost dan high tech, untuk itu tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri.

“Penyusunan kebijakan strategis dibidang kedirgantaraan dulunya dipayungi DEPANRI yang diketuai oleh Presiden, karena sudah dihapus maka secara teknis kegiatanya dilakukan oleh LAPAN. Diharapkan DEPANRI dapat dimunculkan lagi berdasarkan usulan dari pertemuan Pre-summit ini. Pertemuan FGD ini diharapkan menghasilkan berbagai kebijakan yang dapat diimplementasikan untuk memperkuat dunia penerbangan di Indonesia” , jelas Thomas.

Lebih lanjut ia juga mencontohkan bahwa diberbagai negara maju seperti Amerika, Jepang dan Cina peran pemerintah hanya sebatas menginisiasi dalam pengembangan teknologi beresiko tinggi. Sebagaimana dilakukan Amerika lebih mendorong pihak swasta seperti SpaceX melakukan penelitian dan pengembangan teknologi antariksa sekarang lebih maju dari NASA.

Sedangkan sekretaris Indonesia Aeronautical Engineering Center (IAEC) menjelaskan penyusunan kembali cetak biru industri kedirgantaraan nasional perlu diintegrasikan dengan berbagai gagasan yang ada. Hal ini untuk menjalin sinergi diantara para stakeholder sehingga nantinya menjadi acuan bagi peneliti dan perekayasa industri kedirgantaraan baik dalam dan luar negeri untuk memajukan industri dirgantara nasional.

Pre-summit 2019 menghadirkan berbagai narasumber dari kemenristekdikti, Bappenas, Kemenko Perekonomia, Komite Ekonomi, Kementerian Perhubungan, Kementerian Perindustrian, Komite Ekonomi dan industri Nasional (KEIN), PT. Dirgantara Indonesia INACOM, PT. Regio Aviasi Industri dan GMF Aero Asia.



Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
PRE –SUMMIT 1 2019 Penyusunan Cetak Biru Industri Dirgantara Nasional
15 Apr 2019
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) akan menyelenggarakan Pre Summit 2019 pada Selasa, 16 April 2019, event ini akan dimulai pukul 08.00 WIB bertempat di Gedung BPPT II, Lantai 3…

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL