Kompetensi Utama

Layanan


LAPAN - BMKG Bekerja Sama Jawab Tantangan Gempa dan Tsunami
Penulis Berita : Humas/Lela • Fotografer : Humas/Iman • 24 Apr 2019 • Dibaca : 5391 x ,

Foto bersama pejabat penandatangan naskah kerja sama BMKG dengan para mitra kerja sama, termasuk LAPAN

Rabu (24/04), berlangsung penandatanganan Nota Kesepahaman antara LAPAN dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tentang Penelitian, Pengembangan, Perekayasaan Sains dan Teknologi di Bidang Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, serta Keantariksaan di Hotel Mercure Ancol, Jakarta. Nota Kesepahaman ini ditandatangani oleh Kepala BMKG, Prof. Dwikorita Karnawati dengan Kepala LAPAN, dalam hal ini diwakili Deputi Bidang Sains Antariksa dan Atmosfer, Afif Budiyono.

Naskah tersebut ditandatangani serempak dalam seremoni bersama dengan penandatanganan 9 (sembilan) mitra kerja BMKG lainnya, di antaranya Badan Standardisasi Nasional (BSN), Badan Keamanan Laut (Bakamla), Radio Republik Indonesia (RRI), Universitas Muhammadiyah Sorong dan Jayapura, dan MNC. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada rangkaian acara Rakorbangnas dan Rakornas BMKG 2019.

Dalam sambutannya, Dwikorita menyampaikan, dalam setahun terjadi 5000-6000 gempa dan sebanyak 250-300 kali dapat dirasakan getarannya. Lambat laun fluktuasi gempa semakin meningkat. Sepanjang tahun 2017 terjadi lebih dari 7000 gempa, tahun berikutnya meningkat yaitu sebanyak 11900 kali. Kondisi ini disebut dengan terjadinya peningkatan aktivitas bumi, biasa disebut eksponensial.

Dwikorita menambahkan, Badai Siklon sebelum 2017 merupakan kejadian alam yang langka terjadi. Selama 70 tahunan Indonesia merdeka baru 2 kali terjadi badai. Tetapi pada 2017 terjadi 2 kali Badai Cempaka dan pada 2018 terjadi kembali. Kondisi tersebut menambah tantangan BMKG dalam menentukan kebijakan terhadap kejadian tersebut.

Maka BMKG menentukan beberapa sikap untuk menghadapi tantangan tersebut yang fokus pada teknologi dan SDM. Dibangunnya Indonesian Tsunami Early Warning Systems (InaTEWs) pada 2006 yang berbasis pemantauan pada gempa tektonik, sebagai tindak lanjut penanganan tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004.

Berkembang kemudian, peristiwa bencana tsunami ternyata tidak hanya diakibatkan oleh gempa tektonik saja. Hal ini terjadi pada kejadian tsunami yang baru saja melanda pada tahun 2018, yang ternyata disebabkan oleh longsor bawah laut yang dipicu erosi gunung.

Menurutnya, teknologi yang dibangun pihaknya memberikan peringatan dalam 3-5 menit setelah tektonik. Namun peristiwa yang terjadi di Palu pada 2018 tersebut memang di luar dugaan, yaitu 2 menit setelah gempa. Pihaknya menjelaskan, sampai saat ini belum ada teknologi yang bisa menangkap gejala tersebut dalam waktu di bawah 3 menit.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, ia berharap agar kompetensi SDM yang menangani tidak mudah lelah. Untuk itu ia menekankan agar SDM di BMKG harus siap menghadapi kendala tersebut. Untuk mendukung pelaksanaan kerja dan pencapaian kinerja, BMKG membutuhkan jalinan kerja sama. Sehingga dikembangkanlah partnership Pentahelix  (A, B, C, G, M atau Academia, Business, Community, Government, and Media) yang diwujudkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman pada hari ini.

Dwikorita juga mengibaratkan LAPAN seperti saudara kembar BMKG. Dukungan LAPAN bagi BMKG diperlukan terutama dalam hal penyediaan data satelit. LAPAN juga telah menyiapkan perjanjian pelaksanaan di bidang penelitian bersama cuaca antariksa, khususnya dalam hal pengamatan kemagnetan bumi.




Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL