Kompetensi Utama

Layanan


Asteroid Berdampak Dahsyat yang Pernah Terjang Bumi
Penulis : Rachmatunnisa • Media : detik.com • 05 Sep 2019 • Dibaca : 171 x ,

Jakarta - Bumi berpeluang dihantam asteroid berukuran sekitar 20-50 meter pada 9 September 2019. Pernyataan tersebut datang dari badan antariksa Eropa ESA pada awal 2019 dan sempat menimbulkan kekhawatiran.

Namun dalam perkembangannya, Juli lalu, ESA menyebutkan hasil penelitian Double Asteroid Redirection Test (DART) yang dilakukannya bersama NASA justru berbalik 180 derajat situasinya. Disebutkan ESA, pihaknya kini tak bisa menemukan asteroid yang dinamai 2006 QV89 tersebut.

Menurut Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin, adanya program DART bukan berarti ada asteroid yang akan mengancam Bumi dalam waktu dekat.

"Berdasarkan data global, dalam 100 tahun ke depan belum ada indikasi besar akan menabrak Bumi. Program simulasi DART oleh NASA dan ESA adalah uji teknologi dan kesiapan sistem yang dibangun seandainya di masa depan ada asteroid yang mengancam Bumi," sebut Thomas.


Jenis Asteroid yang Mengancam

Ancaman asteroid memang nyata adanya. Dijelaskan Thomas, asteroid secara umum adalah batuan dari antariksa, terdiri dari dua macam. Ada yang merupakan planet-planet kecil, tapi mengorbit Bumi dan suatu saat bisa berpapasan dengan Bumi.

Di samping itu ada juga batuan-batuan yang lebih kecil disebut meteoroid atau bakal meteor. Meteoroid ada yang berukuran kecil, dan jika memasuki atmosfer akan terbakar habis. Ada juga meteorid yang berukuran lebih besar, dan jika setelah melewati atmosfer masih bersisa, disebut meteorit.

"Kalau ukurannya sudah (dalam satuan) meter, itu memang bagian dari asteroid. Asteroid ini dampaknya memang perlu diwaspadai," ujar profesor riset astronomi asal Purwokerto ini.

Disebutkan Thomas, asteroid-asteroid yang mengancam ini memang sulit dideteksi. Dia menceritakan, pernah ada asteroid berukuran diameter 6 meter yang terdeteksi sistem pemantau langit dalam jarak 2 juta km.

"Itu pun kebetulan, sistem pemantau punya perangkat lunak untuk menghitung orbitnya. Waktu itu bisa terdeteksi dan diprakirakan dalam waktu belasan jam lagi akan jatuh di Afrika. Itu sekitar awal 2006. Itu tidak bisa diantisipasi karena hitungannya jam. Selain itu, belum pernah ada lagi asteroid yang terdeteksi sebelum jatuh," paparnya.

Ketika objek langit termasuk asteroid berukuran besar jatuh ke Bumi, sebelum menumbuk Bumi, dampak awal yang akan terasa adalah efek gelombang kejut.

Efek ini berupa gelombang dari sebuah aliran yang sangat cepat dikarenakan kenaikan tekanan, temperature, dan densitas secara mendadak pada waktu bersamaan.

"Gelombang kejut itu seperti kalau ada pesawat tempur lewat, pesawatnya belum lewat, tapi terasa getarannya, biasanya di kaca rumah itu terasa bergetar," Thomas menjelaskan.

Beberapa dampak asteroid sudah banyak terjadi di beberapa belahan dunia, termasuk di Indonesia. Namun memang ukurannya tidak terlalu besar saat jatuh ke Bumi. Dicontohkan Thomas, pada 2008 terdapat asteroid yang jatuh di perairan Bone, Sulawesi Selatan dan dampaknya adalah terasa getaran di rumah-rumah penduduk.


"Waktu yang asteroid di Bone itu, berukuran (diameter) 10 meter. Warga merasakan ada getaran dan melihat jejak asap. Tapi itu (asteroidnya) jatuh di laut jadi dampaknya tidak terlalu terasa, tapi warga menyadari ada getaran itu," urainya.

Belakangan, disebutkan Thomas bahwa LAPAN mendapat informasi dari peneliti di Amerika Serikat (AS) yang mendeteksi gelombang kejut tersebut. Berdasarkan catatan mereka, posisi dan waktunya bersesuaian dengan peristiwa jatuhnya asteroid di Bone, dan dari deteksi gelombang kejutnya disimpulkan bahwa ukurannnya 10 meter.

"Artinya kalau asteroid jatuh itu yang dampak pertama teras adalah gelombang kejutnya," katanya.

Asteroid Dahsyat dalam Catatan

Jika asteroid berukuran 10 meter yang jatuh di Bone itu 'belum ada apa-apanya', data global mencatat setidaknya ada tiga asteroid raksasa yang pernah mampir ke Bumi dan berefek dahsyat.


Pada 2013, langit Chelyabinsk, Rusia kedatangan benda langit berukuran diameter 17 meter. Efek gelombang kejutnya tentu saja lebih besar lagi. Efek gelombang kejut yang ditimbulkan asteroid sebelum menumbuk Bumi menimbulkan kerusakan di wilayah-wilayah yang dilaluinya sebelum jatuh ke danau beku.

"Jadi waktu itu ada pabrik yang atapnya roboh kemudian rumah-rumah di sekitarnya kaca-kacanya pecah. Tapi untungnya asteroidnya jatuh di danau beku. Dan ada penelitian yang bisa mengidentifikasi menemukan beberapa pecahan dari asteroid tersebut," kisahnya.

Mundur ke belakang, di tahun 1908, ada lagi asteroid yang lebih besar yang mampir di Tunguska, Siberia. Saat itu, terjadi ledakan besar yang meninggalkan jejak raksasa di tengah hutan.

"Ledakan besar di Tunguska merobohkan hutan kira-kira seluas Jakarta. Itu diduga merupakan pecahan dari komet. Gelombang kejutnya merobohkan hutan, ditaksir (asteroidnya) berukuran 30 meter," kata Thomas.


Yang terbesar tentunya adalah asteroid yang jatuh sekitar 65 juta tahun lalu. Diduga ada asteroid yang besarnya kira-kira 100 meter lebih jatuh di Semenanjung Yukatan, Meksiko dan disebut sebagai bagian dari sejarah punahnya makhluk dinosaurus.


"Itu diduga dari tumbukan besar, debu-debunya terlontar ke atmosfer dan menutupi seluruh Bumi dan menyebabkan musim dingin global. Salah satu teori mengatakan punahnya dinosaurus salah satunya karena dampak itu. Bukan dampak dinosaurus terkena tumbukan (asteroid) tetapi debu-debu menutupi seluruh Bumi dan menimbulkan musim dingin ekstrem yang membuat dinosaurus punah," tutupnya.

(rns/krs)




Sumber : https://inet.detik.com/science/d-4694054/asteroid-berdampak-dahsyat-yang-pernah-terjang-bumi








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL