Kompetensi Utama

Layanan


Karhuta Terjadi Setiap Tahun, Walhi Kaltim: Ini Indikasi Kegagalan Pemerintah
Penulis : Christoper Desmawangga • Media : kal.tribunnews.com • 17 Sep 2019 • Dibaca : 781 x ,

TRIBUNKALTIM.CO - Beberapa hari ini, sejumlah kawasan di Kalimantan Timur (Kaltim) diselimuti asap hingga membuat jarak pandang semakin terbatas.

Selain itu, warga juga terancam penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) lantaran kepekatan asap yang tinggi. Pekatnya asap tersebut disebabkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di Pulau Borneo.

Berdasarkan pemantauan satelit milik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) titik api di Kaltim selama tiga hari ini mencapai 829 titik.


Dengan lokasi terbanyak berada di Kabupaten Kutai Kartanegara, Paser dan Berau. Samarinda yang relatif sedikit memiliki hutan dan lahan saja ada 4 titik api yang mana 2 titik berada di Palaran, kemudian Sambutan dan Samarinda Utara masing-masing satu titik.

Banyaknya titik api di Bumi Etam, membuat kualitas udara dibeberapa kota di Kaltim tergerus dan menjadi tidak sehat. Dari data Air Visual, bisa dilihat Air Quality Index (AQI) pada beberapa kota sangat tidak sehat.

Akibat asap tersebut, Konsentrasi Partikulat (PM2.5) di udara Ujoh Bilang mencapai 193 PM2.5, disusul Sendawar dengan 184 PM2.5 untuk kualitas udaranya. Kemudian di Samarinda 173 PM2.5 dan Bontang 151 PM2.5 kepekatan udaranya

Direktur Eksekutif Walhi Kaltim, Yohana Tiko mengatakan, persoalan ini menunjukkan jika Pemerintah telah gagal dalam mengatasi Karhutla yang terjadi saban tahun.

Menurutnya, hanya penegakan hukum yang transparan, konsisten, dan serius sebagai langkah efektif untuk mengatasi kasus karhutla.

“Kebakaran kebanyakan terjadi di wilayah perusahaan perkebunan berskala besar. Dan biasanya sengaja dibakar. Jadi, untuk mengatasi perilaku yang merugikan ini caranya dengan penegakan hukum,” tegasnya melalui siaran pers Walhi Kaltim yang diterima Tribunkaltim.co, Senin (16/9/2019).

Tiko, sapaan akrabnya, Pemerintah selama ini tidak pernah berani menindak korporasi yang terlibat dalam kejadian Karhutla, justru yang banyak ditindak adalah masyarakat lokal.

Alhasil, banyak lahan gambut dan hutan yang tidak dipulihkan usai terbakar.

“Jadi potensi terbakar kembali menjadi sangat tinggi. Sementara perusahaan kebanyakan acuh mengenai persoalan ini,” tuturnya.

Kemudian, dirinya juga meminta agar Pemerintah daerah untuk lebih ketat mengawasai lembaga dan organisasi perangkat daerah yang bersinggungan dengan Karhutla.

Sehingga fungsi pengawasan bisa berjalan maksimal. Dari hal itu, menurutnya, upaya Pemerintah dalam mengatasi dampak kebakaran hutan ini dirasa kurang maksimal, karena kasus semacam ini tidak pernah menemui titik akhir.

“Kenyataanya, peristiwa ini terjadi setiap tahun. Ini adalah indikasi kegagalan Pemerintah dalam kasus ini,” pungkasnya. (*)


Sumber : https://kaltim.tribunnews.com/2019/09/16/karhuta-terjadi-setiap-tahun-walhi-kaltim-ini-indikasi-kegagalan-pemerintah








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL