Kompetensi Utama

Layanan


BMKG: Kualitas Udara Palembang Berbahaya
Penulis : Siti Ruqoyah Sadam Maulana • Media : viva news • 19 Sep 2019 • Dibaca : 259 x ,

Kualitas udara di Palembang, Sumatera Selatan, memasuki status berbahaya. Kabut asap yang timbul akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kian pekat hingga hari ini, Kamis, 19 September 2019.

Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Krimatologi dan Geofisika, pada pukul 10.00 WIB, kualitas udara di Palembang mencapai angka konsentrasi 445,28 mikrogram.

Sementara dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), menyatakan pada hari ini terpantau ada 281 titik api di wilayah Sumatera Selatan akibat karhutla.

Wilayah yang paling banyak terdapat titik api yakni Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) sebanyak 145 titik api. Selain itu, di wilayah konservasi juga tidak lepas dari bahaya karhutla. Di daerah konservasi terpantau ada 20 titik api.

"Banyaknya hotspot inilah yang menimbulkan dampak kabut asap. Di mana karhutla terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten di Sumatera Selatan," kata Kepala Observasi dan Informasi BMKG, Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Bambang Beni.

Sejumlah wilayah yang kini terdapat titik api di Sumatera Selatan di antaranya ialah SP Padang, Banyuasin I, Pampangan, Pedamaran, Tulung Selapan, Cengal, Pematang Panggang, Air Sugihan, Pedamaran, dan Mesuji.

Ia menerangkan, angin permukaan yang tercatat di BMKG Stasiun Meteorologi SMB II Palembang umumnya dari tenggara dengan kecepatan 5-20 knot atau 9-37 kilometer per jam.

Hal itu mengakibatkan potensi masuknya asap akibat karhutla ke wilayah Palembang dan sekitarnya. Intensitas asap umumnya meningkat terjadi pada dini hari menjelang pagi hari sekitar pukul 01.00-07.00 WIB. Hal ini akibat labilitas udara yang stabil pada saat tersebut.

Fenomena kabut asap sendiri diindikasikan dengan kelembapan yang rendah dengan partikel-partikel kering di udara yang dihasilkan dari proses pembakaran.

"Hal ini berpotensi diperburuk jika adanya campuran kelembapan yang tinggi yakni partikel basah atau uap air sehingga membentuk fenomena kabut asap," jelas Bambang.

Kian tebalnya kabut asap di Palembang makin dikeluhkan masyarakat. Warga merasa terganggu dalam menjalankan aktivitas. Selain udara yang tidak sehat, jarak pandang juga kian terbatas.

"Jelas terganggu. Kami berharap pemerintah dan pihak terkait dapat segera mengatasi permasalahan ini. Karena sudah sering terjadi setiap tahun," kata Budiman, warga Kecamatan Jakabaring Palembang. 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL