Kompetensi Utama

Layanan


Palembang Kembali Diselimuti Kabut Asap dan Bakal Minim Hujan
Penulis : Hartati • Media : Tribunnews • 04 Nov 2019 • Dibaca : 162 x ,

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Sultan Mahmud Badaruddin II merilis adanya potensi kabut asap menyelimuti Palembang karena angin permukaan yang tercatat di BMKG Stasiun Meteorologi SMB II Palembang umumnya dari arah Timur–Tenggara dengan kecepatan 5-20 Knot atau 9-37 Km per jam.

Angin ini mengakibatkan potensi masuknya asap akibat Karhutbunla ke wilayah Kota Palembang dan sekitarnya.

Sumber dari LAPAN Tanggal 4 November 2019 tercatat beberapa titik panas di wilayah sebelah Tenggara Kota Palembang dengan tingkat kepercayaan di atas 80 persen yang berkontribusi asap ke wilayah Kota Palembang yakni pada wilayah Kayu Agung, Pemulutan, Cengal, Banyuasin I dan Pematang Panggang umumnya meningkat pada pagi hari pukul 04.00-08.00 WIB dikarenakan tidak ada massa udara naik pada waktu-waktu tersebut.

Fenomena Asap sendiri diindikasikan dengan kelembapan yang rendah dengan partikel-partikel kering di udara, mengurangi jarak pandang, beraroma khas, perih di mata, mengganggu pernafasan dan matahari terlihat berwarna oranye atau merah pada pagi atau sore hari.

Hal ini berpotensi memburuk jika adanya campuran kelembapan yang tinggi partikel basah atau uap air sehingga membentuk fenomena Kabut Asap yang umumnya terjadi pada pagi hari.

Jarak Pandang Terendah pada pagi hari tanggal 04 November 2019 berkisar hanya 1500-3500 m dari jam 07.00-08.00 WIB dengan Kelembapan pada saat itu 85-76 persen.

" Sumber dari AirNav, kabut asap tidak menganggu penerbangan di bandara Sultan Mahmud Badaruddin II pagi ini," ujar Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Sumsel, Bambang Beny Setiadi, Senin (4/11/2019).

Beny menambahkan intensitas asap tetap berpotensi terjadi di Sumsel dikarenakan wilayah-wilayah yang memiliki jumlah titik panas yang signifikan belum terpapar hujan yang cukup mengingat luas dan dalamnya lahan gambut yang terbakar.

Hujan Sistem Konvektif berskala Meso (Mesoscale Convective System/MCS) dengan indikasi awan hujan Cumulonimbus yang memanjang lebih kurang 200 km diyakini dapat memadamkan titik-titik panas karhutbunla dikarenakan hujan yang diakibatkan berlangsung lama dan biasanya terjadi pada malam hingga pagi hari.

Secara Regional, seiring adanya pusat tekanan rendah dan badai tropis hatlong di Laut Cina Selatan mengakibatkan menguatnya massa udara dingin dari Australia atau Muson Australia menyebabkan lapisan udara atas kembali kering dan berangin kencang yang akan menghambat pertumbuhan awan hujan di wilayah Sumsel atau minim hujan dan berpotensi peningkatan asap pada 6-8 November 2019.

"Kondisi ini bersifat sementara karena secara meteorologi kondisi posisi matahari dan angin masih di musim peralihan,"tambahnya.

BMKG Sumsel menghimbau kepada masyarakat untuk senantiasa menggunakan masker dan berhati-hati saat bertransportasi pada pagi hari pukul 04.00-08.00 WIB seiring potensi adanya asap dan menurunnya jarak pandang.

Masyarakat dihimbau mengkonsumsi banyak air saat beraktifitas di luar rumah untuk menjaga kesehatan dikarenakan udara akan terasa lebih terik pada siang hari dengan temperature maksimum 35 derajat Celcius karena posisi matahari berada di khatulistiwa.

"Masyarakat juga dihimbau tidak melakukan pembakaran baik itu sampah rumah tangga maupun dalam pembukaan lahan pertanian atau perkebunan," tutupnya.



LINK:
https://sumsel.tribunnews.com/2019/11/04/palembang-kembali-diselimuti-kabut-asap-dan-bakal-minim-hujan








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL