Kompetensi Utama

Layanan


UFO dan Alien dari Kacamata Sains
Penulis : Rachmatunnisa • Media : detik.com • 13 Nov 2019 • Dibaca : 610 x ,

Jakarta - Misteri unidentified flying object alias UFO, hingga sekarang memiliki daya tarik tersendiri. Selama puluhan tahun manusia membicarakan UFO dan alien dalam berbagai versi, termasuk dari kacamata sains.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin sendiri mengaku dirinya pernah sangat tertarik pada UFO dan mencari tahu banyak informasi tentangnya.

"Seiring saya mendalami sains, akhirnya saya pahami bahwa UFO digolongkan sebagai pseudoscience atau sains semu. Jadi orang-orang menjelaskan ada kesaksian-kesaksian yang dijelaskan seolah-olah ilmiah, tapi sebenarnya tidak punya dasar ilmiah," kata Djamal dalam wawancara Blak-blakan detikcom.

Cerita UFO mulai bermunculan di zaman perang dingin antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet (sekarang Rusia) sekitar tahun 1940-an. Saat itu, banyak sekali laporan kesaksian yang mengaku melihat UFO.

Disebutkan Djamal, jika benar ada benda terbang yang dilaporkan, kemungkinan itu adalah wahana eksperimen. Untuk diketahui, pada masa itu, AS dan Uni Soviet terlibat dalam persaingan teknologi antariksa dan penjelajahan angkasa.

"Sebagian besar itu adalah objek-objek yang masyarakat tidak mengenalnya, kemudian menganggap atau mengaitkannya dengan wahana antariksa atau piring terbang yang diasosiasikan sebagai wahananya alien atau makhluk luar angkasa," kisahnya.

Berdasarkan catatan, menurut profesor riset astronomi lulusan S3 Astronomi Kyoto University ini, pernah juga ada yang melaporkan UFO jatuh ke Bumi dan awaknya alias alien yang menumpanginya ditangkap.

"Kalau betul itu ada, tentu para peneliti tidak akan tahan untuk tidak mengungkapnya. Tentu sudah sekian banyak makalah penelitian muncul (tentang UFO dan alien yang ditangkap itu). Tapi nyatanya hingga saat ini tidak ada bukti," jelasnya.

Dari sisi ilmiah, kemungkinan bahwa ada kehidupan lain di luar Bumi yang kita tinggali saat ini, memang tak dipungkiri. Dikatakan Djamal, astronomi mempercayai hal itu dan ada cabang astronomi yang khusus mempelajarinya.

"Namanya bioastronomi, menggabungkan disiplin ilmu biologi dan astronomi, mencari bukti-bukti kehidupan di luar Bumi, mempelajari syarat-syarat kehidupan di luar Bumi, kemudian juga mencari planet-planet yang mempunyai atau menenuhi syarat untuk adanya kehidupan," urainya.

Namun meski diyakini bahwa ada kehidupan di luar Bumi, hingga saat ini bukti itu pun belum ada. "Setidaknya di tata surya, termasuk di Mars dan beberapa planet dan satelitnya planet, belum ditemukan ada bukti kehidupan," sebutnya.

Yang saat ini juga sedang dicari para peneliti astronomi, adalah planet-planet atau bintang-bintang yang jauh di luar tata surya. Pencarian ini berupaya menemukan sinyal-sinyal pancaran radio yang bukan merupakan pancaran radio alami.

"Asumsinya kalau di luar Bumi di suatu planet jauh di sana ada suatu kehidupan yang cerdas, asumsinya seperti manusia di Bumi, mereka pasti menggunakan gelombang radio untuk komunikasinya. Mungkin juga mereka punya keingintahuan sama seperti manusia. Bisa jadi mereka mengirimkan sinyal," terangnya.

Sejauh ini, hasil penelitian mencatat bahwa dari sekian banyak bintang dan planet tersebut, tertangkap sinyal-sinyal yang mengindikasikan sinyal tersebut bukan sinyal alami.

"Jadi seperti gelombang radio dari radar atau dari suatu broadcasting. Tapi itu belum bisa dibuktikan bahwa betul sinyal-sinyal itu berasal dari suatu peradaban di luar sana," simpulnya.

Menanggapi sejumlah kejadian yang berhasil diabadikan masyarakat terkait penampakan mirip UFO, Thomas menganjurkan agar mengonfirmasinya kepada lembaga terpercaya guna mendapat kepastian tentang kejadian yang mereka alami.

"Biasanya LAPAN dapat laporan dari teman-teman media dari berbagai tempat. Ada masyarakat melihat penampakan aneh ditanyakan ke LAPAN. Biasanya data itu berupa foto, kemudian diklarifikasi. Pertama kita lihat foto itu asli atau tidak. Kalau itu foto asli, sebenarnya objek apa sih yang tampak di sana," dia menjelaskan.

Di Indonesia misalnya, dalam catatan, pernah ada orang memotret sebuah objek di langit seperti asap yang bentuknya dianggap aneh. Setelah diteliti, ternyata penampakan tersebut adalah condensation trails atau jejak kondensasi pesawat terbang.

Ada juga beberapa kejadian yang semula diduga sebagai penampakan piring terbang, kemudian diklarifikasi oleh badan meteorologi ternyata hanya sebuah fenomena dari pergerakan awan.

Tak hanya di Indonesia, di berbagai negara pun marak cerita penampakan UFO dari dulu hingga sekarang. Yang paling fenomenal mungkin pada sekitar 1970-an di AS, bertepatan dengan misi peluncuran Apollo ke luar angkasa sedang hangat-hangatnya.

Saat itu, ada sebuah foto dari misi peluncuran Apollo yang diduga terdapat piring terbang mengikuti Apollo. Belakangan, NASA kemudian menjelaskan itu bukan UFO.

"Jadi sebenarnya itu adalah bagian dari kakinya wahana Apollo itu yang kemudian karena sudut pencahayaan Matahari, menampakkan seperti piringan bercahaya. Dengan kualitas fotografi pada masa itu, kemudian seolah-olah objek yang terbang mengitari Apollo itu seperti piring terbang," jelasnya.

Namun disebutkan Thomas, saat ini laporan penampakan UFO yang diterima LAPAN sendiri sudah mulai berkurang. Dia menilai masyarakat sudah mulai cerdas karena banyak juga yang mencari tahu sendiri melalui berbagai informasi di internet.




Sumber: https://inet.detik.com/science/d-4783593/ufo-dan-alien-dari-kacamata-sains








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL