Kompetensi Utama

Layanan


Taman Nasional Langit Gelap & Teleskop Terbesar di Asia Tenggara Segera Hadir di Indonesia
Penulis : Muhafidz • Media : harapanrakyat.com • 13 Nov 2019 • Dibaca : 245 x ,

Taman Nasional Langit Gelap dikabarkan akan segera hadir di Indonesia. Taman ini berupa observatorium nasional yang dibuat oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

Diketahui bahwa LAPAN tengah membangunnya di Timau, Amfoang, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Dikarenakan baru pertama kali dihadirkan, publik menyambut positif destinasi wisata langit gelap ini.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Thomas Djamaluddin selaku Kepala LAPAN, pembuatan observatorium nasional di Timau akan mengganti observatorium nasional Bosscha di Lembang, Jawa Barat.

Taman Nasional Langit Gelap
Indonesia sebenarnya memang sudah memiliki observatorium Bosscha. Hanya saja, kondisi kota Bandung yang sudah semakin terang membuat fungsi Bosscha menjadi menurun.

Perlu diketahui, kota yang terang bisa membuat polusi cahayanya menjadi kian tinggi. Akibatnya, peneropongan benda langit akan lebih sulit.

Dengan demikian, langkah yang diambil untuk membuat observatorium Taman Nasional Langit Gelap di Timau adalah solusi terbaik. Pengamatan benda di luar angkasa tetap bisa dilakukan secara jelas.

Sebelum diputuskan untuk memilih Timau, para astronom yang berasal dari Institut teknologi Bandung sudah melakukan survei di seluruh wilayah yang ada di Indonesia.

Dari survei tersebut, tim astronom menemukan hasil bahwa lereng Gunung Timau menjadi lokasi yang cocok untuk dibangunnya observatorium nasional.

Dalam membangun observatorium tersebut, Thomas Djamaluddin mengatakan bahwa persiapannya sudah dilakukan sejak tahun 2018.

Tahun 2019 ini pun pembangunan tahap awal direncanakan sudah selesai, baik itu kubah maupun teleskopnya. Dengan begitu, observatorium bisa mulai beroperasi tahun depan.

Namun, sulitnya akses ke Timau membuat pembangunannya menjadi molor. Akses yang sulit menjadi kendala dalam membawa crane besar dan pemasangan berbagai jenis peralatannya.

Selain sebagai Taman Nasional Langit Gelap pertama yang ada di Indonesia, observatorium nasional tersebut juga menjadi tempat untuk teleskop terbesar di Asia Tenggara.

Disebut terbesar karena ukuran diameternya bisa sampai 3,8 meter. Pembangunan observatorium ini benar-benar mencuri perhatian.

Adanya observatorium nasional di Timau diharapkan bisa membantu perkembangan sains dan teknologi yang ada di Indonesia.

Lebih dari itu, pembangunan observatorium ini juga bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, baik itu lokal maupun mancanegara.

Tak mengherankan karena observatorium nasional Timau menjadi observatorium terbesar yang ada di kawasan Asia Tenggara.

Mengenal Bosscha, Pendahulu Taman Nasional Langit Gelap
Sebagai pendahulu observatorium nasional Timau, observatorium Bosscha sangat menarik untuk dibahas. Observatorium ini sebenarnya berfungsi sebagai lembaga khusus pendidikan dan penelitian.

Bosscha bukanlah objek wisata sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang. Hanya saja, tingginya angka permintaan masyarakat dalam mengenal astronomi menjadi alasan dibukanya Bosscha untuk publik.

Bosscha ini sendiri adalah observatorium yang ada di bawah naungan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB.

Observatorium ini dibangun pada tahun 1923 oleh Perhimpunan Pengamat Bintang Hindia Belanda. Kala itu, tujuan pembangunannya untuk lebih memajukan ilmu astronomi, serupa dengan Taman Nasional Langit Gelap.

Pada tahun tersebut, Karel Albert Rudolf Bosscha menjadi perintis sekaligus penyumbang dana dalam membangun observatorium.

Tak hanya itu, KAR Bosscha juga berupaya untuk membeli Teleskop Refraktor Ganda Zeiss dan Bamberg bersama dengan koleganya.

Mengenai rancangannya, pembangunan Bosscha dipercayakan kepada arsitek K. CP Wolf Schoemacher, yang tak lain adalah guru Presiden Soekarno.

Butuh perhitungan yang cermat dan matang dalam membangun Bosscha. Hal ini dikarenakan Lembang termasuk kawasan yang rawan gempa.

Tanpa adanya perhitungan sebelumnya bisa membuat observatorium Bosscha lebih mudah mengalami kerusakan saat gempa terjadi.

Dengan alasan tersebut, pembangunan Bosscha merujuk pada peta geologi. Dimana dengan peta tersebut bisa memudahkan dalam penentuan lokasinya.

Pada akhirnya, Bosscha dibangun di tepi patahan Lembang. Lokasi ini dipilih karena terdiri dari batu cadas dan tanah sehingga lebih stabil.

Setelah melewati proses yang panjang, observatorium Bosscha akhirnya bisa selesai dibuat pada tahun 1928. Kemudian pada tahun 2004, observatorium ini menjadi Benda Cagar Budaya yang ditetapkan oleh pemerintah.

Dengan adanya ketetapan tersebut, keberadaan observatorium Bosscha pun dilindungi oleh undang-undang, tepatnya UU nomor 2/1992 tentang Benda Cagar Budaya.

Meski Indonesia segera mempunyai Taman Nasional Langit Gelap, namun keberadaan observatorium Bosscha tetap perlu dilestarikan. (R10/HR-Online)




Sumber: https://www.harapanrakyat.com/2019/11/taman-nasional-langit-gelap-teleskop-terbesar-di-asia-tenggara-segera-hadir/








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2019 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL