Kompetensi Utama

Layanan


Tingkatkan Industri Antariksa, Pemerintah Negara Asia Incar Sektor Swasta
Penulis : Anang Panca • Media : kursrupiah.net • 04 Dec 2019 • Dibaca : 929 x ,

NAGOYA – Di tengah kondisi ekonomi global yang tidak pasti, terutama karena efek perang perdagangan AS-China yang tidak kunjung berakhir, negara-negara di Asia mulai melirik industri antariksa sebagai mesin untuk mendongkrak pertumbuhan. Namun, untuk meningkatkan sektor industri ruang angkasa ini, pemerintah Benua Kuning perlu meningkatkan pangsa sektor swasta.

“Kami tidak boleh ketinggalan perahu ini,” ujar Joel Marciano, kepala program luar angkasa di Departemen Sains dan Teknologi Filipina, dalam sebuah interview dengan Nikkei. “Pengetahuan ruang angkasa telah diterapkan pada kurikulum untuk universitas di Filipina, yang bertujuan untuk membangun dan meluncurkan empat atau lima satelit lagi dalam beberapa tahun mendatang.”

Saat ini, Filipina sudah memiliki tiga satelit di orbit yang dikembangkan bersama universitas-universitas Jepang. Presiden Rodrigo Duterte baru-baru ini juga sudah menandatangani undang-undang yang membentuk badan antariksa, sebagian sebagai tanggapan terhadap perubahan keadaan ekonomi dan geopolitik. “Ada lonjakan pertumbuhan besar di sektor ini,” sambung Marciano.

Manila tidak sendirian dalam melihat peluang dalam ‘ruang baru’, aktivitas ruang komersial, seperti meluncurkan roket dan layanan berbasis satelit untuk bisnis, yang telah muncul dalam beberapa tahun terakhir. Negara Asia lainnya, seperti China, Korea Selatan, India, Indonesia, dan Malaysia, juga mencari cara untuk menangkap sepotong pasar baru, atau setidaknya masuk dalam permainan.

Sayangnya, pemeritah masih mendominasi program luar angkasa di sebagian besar negara di Benua Kuning. Di Jepang, 90 persen pesanan perangkat keras antariksa berasal dari pemerintah. Negeri Matahari Terbit berusaha untuk meningkatkan pangsa sektor swasta menjadi sekitar 50 persen, atau setara dengan AS dan Eropa.

Sementara itu, di China, lebih dari 200 perusahaan ruang angkasa swasta sudah beroperasi. China National Space Administration cuma berfokus pada pengembangan teknologi mutakhir. Di Korea Selatan, pemerintah sedang mengejar ‘industrialisasi’ teknologi ruang angkasa, membiarkan perusahaan swasta seperti Korea Aerospace Industries berpartisipasi dalam produksi roket dan satelit, yang sebelumnya didominasi oleh Korea Aerospace Research Institute milik pemerintah.

Malaysia tidak ketinggalan bermain di sektor ini. Negeri Jiran sebelumnya hanya membeli data satelit dari negara lain daripada mengejar program luar angkasa asli. Namun, itu semua sebentar lagi akan berakhir. Direktur Jenderal Badan Antariksa Malaysia, Azlikamil Napiah, mengatakan bahwa pihaknya tidak bisa hanya mengandalkan orang lain, dan suatu hari juga perlu memiliki satelit sendiri, sektor ruang angkasa sendiri.

“Malaysia ingin menjadi salah satu negara dirgantara pada tahun 2030 mendatang. Mengembangkan dan melayani satelit akan memiliki dampak lebih besar pada sektor ekonomi,” ujar Napiah. “Untuk itu, pemerintah perlu mengejar kemitraan dengan sektor swasta. Pemerintah tidak dapat menyediakan biaya sepanjang jalan, karena teknologi ruang angkasa cukup mahal.”

Komersialisasi juga menyebar ke India, ketika doktrin ‘ruang untuk pembangunan nasional’ telah lama memegang kekuasaan. Pergeseran ini terjadi sebagai tanggapan terhadap munculnya industri ruang angkasa global dan minat baru dalam misi berawak ke bulan, Mars, dan seterusnya. “India telah menyadari bahwa jika ingin memainkan peran penting dalam komunitas global, ia harus menyamakan dirinya dengan apa yang terjadi di dunia,” tutur Mukund Rao, asisten profesor National Institute of Advanced Studies di Bangalore.

Indonesia juga berharap sektor swasta akan turut andil dalam membangun program roket dan satelit di tengah kondisi fiskal yang ketat. Pasalnya, di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo saat ini, fokus pemerintah adalah pada infrastruktur seperti jalan, pelabuhan, atau bandara, bukan pada aerospace, yang anggarannya flat dalam beberapa tahun terakhir.

“Terdiri dari lebih dari 17.000 pulau, Indonesia membutuhkan lebih banyak satelit untuk memantau perbatasan maritim, menyediakan layanan telepon seluler di daerah-daerah terpencil, dan melacak pesawat yang melintasi kepulauan yang luas,” papar Thomas Djamaluddin, ketua Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Indonesia (LAPAN). “Jika kita hanya bergantung pada satelit internasional, itu tidak cukup.”

Negara sendiri sudah membangun roket yang memiliki diameter 45 cm dan sekarang sedang mengembangkan roket yang sedikit lebih besar dengan diameter 55 cm. LAPAN juga telah mengembangkan pesawat 19 penumpang, dan bakal memproduksinya tahun depan. Rencana induk ruang angkasa jangka panjang Indonesia adalah memproduksi dan meluncurkan roket dan satelit kecil dari pelabuhan antariksa domestik pada tahun 2040.

Namun, visi untuk membuka ‘pelabuhan ruang komersial khatulistiwa’ tergantung pada pendanaan. Ada pembicaraan dengan China, yang membantu membangun pelabuhan antariksa. Namun, para pejabat menekankan bahwa proyek tersebut bukan kontrak pemerintah-ke-pemerintah dan mereka mencari mitra komersial. “Jika ada mitra internasional dari negara manapun untuk berkolaborasi dalam hal ini, kami dapat mewujudkan situs peluncuran pada tahun 2024,” tambah Djamaluddin.

LINK:
https://kursrupiah.net/negara-asia-incar-swasta-industri-antariksa/23574/








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2020 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL