LAPAN Dukung Mapin
Penulis Berita: NN, Fotografer: , Tanggal: 19 Feb 2015

Kepala Lembaga Penerbangan Dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin mengatakan perkembangan teknologi dan pemanfaatan penginderaan jauh semakin meningkat.

Karena itu, semakin meningkat pula kebutuhan terhadap data penginderaan jauh untuk berbagai bidang, jelasnya, di Gedung Thoyib Hadiwijaya, Fakultas Pertanian IPB, Bogor, Kamis (5/2).

Masih menurutnya, kebutuhan tersebut terus diupayakan oleh Lapan untuk dapat dipenuhi dengan cara menyediakan citra satelit bagi semua instansi pemerintah.

Paparan tersebut disampaikan Thomas saat menjadi pembicara dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan Perkembangan Penginderaan Jauh di Indonesia dan Kongres Masyarakat Penginderaan Jauh Indonesia (Mapin).

Dengan demikian katanya, pengadaan data penginderaan jauh memiliki satu pintu di Lapan. Ini sesuai dengan Undang-undang No. 21 Tahun 2013 Tentang Keantariksaan dan Inpres No. 6 Tahun 2012 tentang penyediaan dan pengelolaan citra satelit, ujarnya.

Lebih lanjut katanya lagi, untuk menyediakan data satelit tersebut, Lapan didukung dua stasiun bumi yang berada di Parepare, Sulawesi Selatan, dan Rumpin, Jawa Barat. Kedua stasiun bumi ini telah mampu memberikan data untuk seluruh wilayah di Indonesia. Data tersebut memiliki beragam resolusi mulai dari yang rendah, sedang, dan tinggi.

Ditambahkannya, saat ini terdapat tuntutan untuk menyediakan peta 1:5000. Data beresolusi 1,5 meter yang dimiliki Lapan dari satelit SPOT-6 sudah dapat memenuhi tuntutan itu.

Hanya saja, datanya masih perlu dilengkapi dengan citra beresolusi lebih tinggi.
Kebutuhan data penginderaan jauh yang semakin meningkat tersebut nantinya juga akan ditujukan untuk menyusun peta seluruh Indonesia. Bukan hanya itu, bahkan, Lapan dan BIG akan mengembangkan pola peta digital populer, contohnya seperti Google Earth, namun dengan data yang lebih akurat. Dengan demikian, peta tersebut dapat dijadikan acuan dan masyarakat dapat dengan mudah mengaksesnya,"bebernya.

Kepala Lapan mencontohkan, melalui Sistem Informasi Mitigasi Bencana Alam (SIMBA) yang dikembangkan Lapan, potensi bencana di Indonesia dapat diketahui.

Sistem tersebut menggunakan data penginderaan jauh untuk memberikan informasi mengenai kemungkinan bencana alam seperti banjir, letusan gunung api, tsunami, kekeringan, kebakaran hutan, serta cuaca dan iklim. Contoh lainnya yaitu, dengan memanfaatkan data satelit MTSAT dikombinasikan dengan model atmosfer seperti yang terdapat pada Satellite Disaster Early Warning System (SADEWA), maka pergerakan awan setiap jamnya dapat terlihat. Dengan demikian, dapat diketahui prakiraan hujan di suatu wilayah," jelasnya.

Selain itu, peran penginderaan jauh dalam penanganan bencana tersebut diakui penting oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Dr. Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan bahwa kemampuan satelit memberikan data secara cepat dan akurat sangat sesuai dengan prinsip penanganan bencana yang harus cepat dan tepat.

Sumber :
http://www.sinarpagi.net/berita-2093-lapan-dukung-mapin.html