Kunjungan Mahasiswa Unika Atma Jaya: Litbang Penerbangan dan Antariksa Penting untuk Indonesia
Penulis Berita: Humas/SA, Fotografer: Pustekbang, Tanggal: 25 Feb 2015

Perencanaan pembuatan pesawat N219 tergolong singkat. Penyusunan desain requirements and objectives (DRO) pesawat N219 dimulai pada 2011, bersamaan dengan lahirnya Pusat Teknologi Penerbangan (Pustekbang) Lapan. Dokumen DRO secara formal mendokumentasikan tujuan pengembangan pesawat, memastikan desain akhir pesawat memenuhi persyaratan, dan untuk membantu pengembangan pesawat di masa mendatang. Rencananya, pada 2017 pesawat N219 sudah lulus sertifikasi dan uji terbang. 

Selama beberapa tahun ini para peneliti telah berhasil membangun rancangan N219. Hal tersebut dipaparkan oleh peneliti Lapan, Eko Budi Purwanto, saat mempresentasikan hasil penelitian dan pengembangan teknologi penerbangan Lapan dalam kunjungan mahasiswa ke Pustekbang Lapan, Rumpin, Bogor, Selasa (24/2).

Eko menjelaskan, N219 adalah pesawat terbang yang sedang dikembangkan oleh Lapan dan PT DI untuk mengisi kebutuhan di sektor penerbangan perintis di Indonesia. Pesawat ini memiliki kapasitas angkut hingga 19 penumpang. N219 dapat terbang di landasan pendek sepanjang 500 meter pada maximum take off weight (MTOW). Pesawat ini juga dapat take-off dan landing pada berbagai macam landasan, baik itu aspal, rumput maupun tanah. Selain N219, Eko memaparkan tentang kemampuan pesawat tanpa awak Lapan (LSU) dan pesawat berawak untuk keperluan pemantauan (LSA).

Pada kesempatan yang sama, Peneliti Pusat Teknologi Satelit Chusnul Tri Judianto memaparkan tentang satelit Lapan-A2. Ia menjelaskan, Lapan-A2 yang dilengkapi dengan sistem identifikasi otomatis (AIS) diharapkan dapat meningkatkan pengawasan wilayah maritim Indonesia.

“Untuk melakukan observasi terhadap wilayah seluas Indonesia secara real time, maka dibutuhkan teknologi satelit agar dapat membangun sistem komunikasi antarwilayah, monitoring setiap jengkal wilayah Republik Indonesia juga pengawasan seluruh kandungan sumber daya alam,” Chusnul menjelaskan.

Ia menambahkan, Lapan telah berhasil membangun satelit Lapan A1 atau Lapan-Tubsat yang diluncurkan pada 10 Januari 2007. Hingga kini, satelit tersebut masih berfungsi. Selain itu, Chusnul menambahkan mengenai road map pengembangan satelit Lapan hingga generasi Lapan-A3.

Kunjungan ini diikuti 28 mahasiswa dari Unika Atma Jaya, UPN Veteran, dan Universitas Kristen Indonesia. Kunjungan ini bertujuan agar para mahasiswa dapat lebih mengetahui tentang ilmu keantariksaan. Dengan demikian, mereka memiliki gambaran dan tertarik dengan bidang keantariksaan.