Satelit Buatan Anak Negeri Siap Unjuk Gigi
Penulis Berita: Amal Nur Ngazis, Agus Tri Haryanto, Fotografer: , Tanggal: 29 Aug 2015

Momentum Bersejarah Dunia Keantariksaan Indonesia

Pekan pertama September 2015, jika tak ada aral rintangan akan menjadi momentum bersejarah dunia keantariksaan Indonesia. Pada 3 September nanti, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) dijadwalkan meluncurkan satelit LAPAN A2 ke luar angkasa.

Dikatakan bersejarah sebab, sepanjang ini Lapan baru meluncurkan satu satelit yaitu LAPAN Tubsat atau LAPAN A1.

Satelit A2 merupakan bagian dari fokus pengembangan teknologi satelit yang sudah ditetapkan Lapan. Sesuai rencana, setelah meluncurkan LAPAN A2, lembaga negara nonkementerian itu sudah menyiapkan satelit penerusnya yaitu satelit LAPAN A3, LAPAN A4 dan LAPAN A5. Satelit A3 dan A4 dijadwalkan bisa meluncur pada tahun depan. Sedangkan LAPAN A5 sesudahnya, namun belum dijadwalkan tahun peluncurannya.

Diketahui, satelit tubsat LAPAN-A1 yang sudah diluncurkan dan LAPAN-A2 akan diluncurkan bulan depan. Sementara, LAPAN-A3 direncanakan mengangkasa tahun depan dengan bekerja sama Institut Pertanian Bogor (IPB).

Satelit Anak Negeri Siap Unjuk Gigi - Model Satelit A2 buatan Lapan

Kepala Lapan Thomas Djamaluddin mengatakan, tiap pengembangan tahapan satelit tersebut akan mewakili peningkatan kemampuan. Untuk satelit tahapan awal hanyalah satelit untuk eksperimen saja, sedangkan nantinya secara bertahap satelit Lapan juga akan melayani eksperimen dan operasional.

“Dari seri-A LAPAN mulai dari generasi satu hingga ketiga semuanya merupakan seri eksperimen, tetapi itu akan berangsur-angsur ke sifat komersialnya,” ujar Thomas, Kamis 27 Agustus 2015.

Nah bicara soal satelit LAPAN A2, bisa dibilang istimewa. Sebab A2 berbeda dengan pendahulunya A1. A2 patut menjadi kebanggaan sebab satelit itu dibuat dan dilahirkan sepenuhnya di Tanah Air, meski tetap menggunakan konsultan dari Jerman.

Berbeda dengan generasi sebelumnya, LAPAN-A2 ini murni buatan Indonesia yang dilakukan oleh para engineer Lapan. Mereka membuat satelit tersebut selama kurang lebih lima tahun.

“LAPAN-A2 ini murni dilakukan engineer Lapan dari pembuatan, penelitian dan perekayasanya sepenuhnya menggunakan fasilitas Lapan.

Sebelumnya, LAPAN-A1 dibuat di Jerman dan di bawah bimbingan profesor Jerman juga,” ujar Thomas.

Selama pembuatan satelit tersebut, Lapan mengalokasikan anggaran sekitar Rp60 miliar.

Namun meski LAPAN A2 dibuat oleh anak bangsa, untuk peluncuran ke luar angkasa, Lapan belum bisa melakukannya di Tanah Air. Satelit A2 harus ‘menumpang’ roket yang diluncurkan dari Chennai, India. A2 akan diluncurkan bebarengan dengan satelit Astrosat milik India dalam misi PSLV-C30/Astrosat.

Penyebabnya pertama karena di Indonesia belum ada roket dan fasilitas yang bisa meluncurkan muatan ke luar angkasa. Kedua, Lapan sudah menjalin kerja sama peluncuran muatan ke luar angkasa dengan Badan Antariksa India (ISRO) sampai dengan A3.

Tapi bila bicara soal kemampuan, A2 memiliki kelebihan dibanding pendahulunya. Jika A1 sepenuhnya merupakan satelit eksperimen, maka pada A2 porsi eksperimen itu dikurangi menjadi 80 persen eksperimen dan 20 persen operasional. Peningkatan ini dilakukan pada A3 yang akan memiliki porsi 60 eksperimen dan 40 operasional.

Thomas melanjutkan, pada satelit LAPAN A4 dan LAPAN A5 diharapkan bobot operasionalnya lebih besar dari satelit generasi sebelum-sebelumnya.

Thomas menjelaskan, satelit A2 dilengkapi sejumlah teknologi mutakhir, di antaranya mampu mengobservasi permukaan bumi menggunakan kamera video, kamera digital, serta peralatan sistem identifikasi otomatis (AIS) untuk pemantauan kemaritiman. AIS berfungsi untuk mendeteksi kapal laut yang melewati perairan Indonesia. Teknologi ini bahkan juga mampu mendeteksi potensi pencurian ikan di perairan Indonesia.

Satelit generasi kedua ada sejumlah penambahan komponen mengena radio amatir. Hal ini menjadi yang pertama dilakukan dengan bekerjasama antara Lapan dengan Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari).

LAPAN A2 ditanamkan sistem komunikasi untuk keperluan mitigasi bencana dengan menggunakan radio amatir melalui voice repeater dan automatic packet reporting system (APRS). Jadi misalnya terjadi bencana dan komunikasi di daratan mati, data dari satelit A2 akan memberikan bantuan komunikasi alternatif melalui radio amatir.

“LAPAN A2 misi utamanya yang menentukan sepenuhnya dilakukan oleh Lapan.


Kerja sama dengan Orari itu penambahan muatannya saja,” ujarnya menambahkan.

Bobot satelit ini mencapai 78 kilogram dengan kemampuan mengorbit di atas 650 kilometer dari permukaan bumi. Nantinya, LAPAN-A2 akan beroperasi orbit near equatorial dan mampu melintasi wilayah Indonesia sebanyak 14 kali setiap harinya.

Kirim ke India
Lapan kini tinggal menunggu hari untuk mengirim satelit di instalasi peluncuran roket di India. Semula satelit akan dikirim pada 30 Agustus, namun diundur menjadi 3 September dengan alasan Lapan ingin ada upacara khusus pelepasan.

Setelah seremonial dilangsungkan, satelit asli buatan lokal ini akan dikirim dari Cengkareng ke Chennai, India, dengan menggunakan pesawat kargo.

Selama pengiriman ke India, juga bukan tanpa tantangan. Sebab selama penerbangan, A2 bisa saja mengalami kerusakan. Untuk itu Lapan mengirimkan insinyur untuk mengawal A2 hingga proses peluncurannya.

“Satelit itu akan dilakukan pengujian kembali, karena perjalanan pengiriman itu kemungkinan akan ada gangguan. Di uji, apa ada kerusakan, nanti ada engineer yang memperbaikinya,” kata Thomas.

Sesampainya di Chennai, satelit mikro itu akan menempuh perjalanan darat menuju lokasi peluncuran di Satish Dhawan Space Centre atau Sriharikota Renge (SHAR), India.

Ditambahkan Thomas, begitu sampai di Chennai juga belum pasti A2 langsung diluncurkan sesuai jadwal 3 September. Misi peluncuran harus menunggu cuaca yang bersahabat, terutama kondisi matahari yang bisa berdampak kuat pada satelit. Tapi Thomas yakin, cuaca ke depan akan ‘merestui’ peluncuran A2.

Soal ‘masa hidup’ satelit, Lapan mengatakan A2 diharapkan punya usia operasional yang lebih lama dibanding A1. Untuk diketahui A1 saat itu diperkirakan punya usia 2-3 tahun, tapi pada faktanya bisa bertahan hingga enam tahun lamanya.

Dalam rangka agar bisa mandiri dalam meluncurkan satelit, Lapan tidak berpangku tangan. Lembaga antariksa Indonesia ini sudah menargetkan penguasaaan teknologi Roket Pengorbit Satelit. Target Lapan yaitu mampu membangun roket yang bisa mengantarkan satelit kecil hingga ke orbit 300 Km dari permukaan bumi.

Dorong pembangunan
Selain memiliki manfaat praktis, satelit juga dilihat bisa menjadi faktor pemercepat pembangunan nasional.

Untuk itu, Lapan melakukan kerja sama dengan beberapa instansi daerah dalam memanfaatkan teknologi antariksa. Pemanfaatan teknologi antariksa yang dimaksud adalah menggunakan satelit penginderaan jarak jauh.

“Data satelit dapat digunakan sebagai informasi untuk sektor perikanan, pertanian, perkebunan, perkotaan, dan perpajakan. Dalam perencanaan pembangunan, data dari satelit penginderaan jauh tersebut dapat digunakan untuk membangun Rencana Detail Tata Ruang (RDTR),” ujar Kepala Bagian Humas Lapan, Jasyanto.

Selain itu, pemanfaatan teknologi antariksa ini juga dapat memberikan keuntungan, seperti mengindetifikasi objek tutupan lahan sehingga dapat menyediakan informasi yang menyeluruh bagi kebutuhan perencanaan pembangunan daerah.

“Untuk meningkatkan pemanfaatan teknologi antariksa dalam perencanaan pembangunan, Lapan menandatangani kerja sama dengan beberapa pemerintah daerah, mulai dari Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang Barat, Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu, Kabupaten Pinrang, dan Pemerintah Kabupaten Tabalog,” ujar Jasyanto menambahkan.

Selain dengan pemerintah daerah, Lapan juga melakukan kerja sama dengan beberapa instansi untuk mendukung pembangunan nasional. Intansi tersebut yaitu, Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP), Balai Besar Kalibrasi Fasilitas Penerbangan, PT Mandiri Mitra Muhibah, dan Badan Informasi Geospasial (BIG).

“Instansi-instansi tersebut akan bekerja sama dengan Lapan juga mencakup permanfaatan pesawat tanpa awak buatan Lapan. Pesawat tanpa awak tersebut, contohnya akan dimanfaatkan untuk pemantauan pertanian pengelolaan pantai,” kata dia.

Lapan juga mencoba memasyarakatkan teknologi antariksa kepada beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Udayana, Universitas Ahmad Dahlan, dan Universitas Gadjah Mada. Ketiga kampus itu akan melakukan penelitian di bidang teknologi penerbangan dan antariksa.

Sumber :
http://www.radarpekalongan.com/91150/satelit-buatan-anak-negeri-siap-unjuk-gigi/