Pengamatan GMT di Palembang Diselimuti Awan
Penulis Berita: Humas/Jas, Fotografer: Humas/Jim, Tanggal: 10 Mar 2016

Seluruh masyarakat Indonesia, khususnya mereka yang tinggal di sejumlah 12 propinsi yang dilintasi Gerhana Matahari Total (GMT) sangat menanti-nanti peristiwa tersebut terjadi. Gerhana ini merupakan fenomena alam yang langka dan unik untuk diabadikan serta menjadi bahan penelitian para ilmuwan dunia. Untuk menangkap momen tersebut dengan lebih maksimal, Pemerintah Sumatera Selatan melakukan aksi penutupan sementara jalan di Jembatan Ampera yang merupakan ikon kebanggaan daerah ini dialihkan sebagai lokasi pengamatan.

Rabu (09/03), sejak pukul 04.00 WIB, masyarakat dengan antusias memadati jalanan di sepanjang Jembatan Ampera. Tak hanya masyarakat Palembang sendiri, namun juga wisatawan domestik, bahkan wisatawan asing serta para peneliti astronomi. Mereka melakukan pengamatan dan sekadar menikmati peristiwa GMT 2016 secara bersama-sama.
Rangkaian acarapun telah dibuat demi memeriahkan kejadian alam ini. Jajaran pejabat pemerintah daerah setempat hadir. Kesempatan ini juga tak disia-siakan oleh Gubernur Sumatera Selatan, H. Alex Noerdin, Siti Hediati Hariyadi atau biasa dipanggil Titiek Suharto, Hatta Rajasa, Sekretaris Utama LAPAN, I.L. Arisdiyo, Sekretaris Utama BATAN, Falconi Margono, Kepala Biro Kerjasama, Humas, dan Umum, Christianus R. Dewanto, serta Kepala Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer, Halimurrahman.

Peneliti atmosfer LAPAN mengamati respon atmosfer Bumi saat gerhana, bagaimana dampak GMT terhadap perubahan intensitas radiasi matahari dan parameter fisik seperti temperatur, serta penelitian terkait dampak GMT terhadap laju fotosintesis yang diamati dengan perubahan pola-pola diurnal karbondioksida.

LAPAN berperan aktif untuk melakukan penelitian dengan menyediakan teropong yang bisa diakses oleh media massa dan masyarakat yang ingin melihat GMT. Selama proses gerhana, para peneliti dan pejabat LAPAN yang tergabung dalam Tim Teknis dari Pusat Sains Teknologi Atmosfer, serta Humas LAPAN aktif memberikan penjelasan tahap-tahap gerhana, fenomena apa yang terjadi sepanjang gerhana. Dari bekal tersebut masyarakat memperoleh pencerahan sehingga dapat menjadi panduan masyarakat dalam mempersiapkan diri melakukan pengamatan, terutama cara menggunakan kaca mata gerhana.

Kejadian GMT di Palembang dimulai pada pukul 07.20 WIB dan berakhir pukul 07.22 WIB. Semua orang yang melihatnya merasa takjub akan kegelapan yang terjadi selama 1 menit 52 detik ini. Masyarakat secara bersama-sama melantangkan kalimat takbir yang menandakan bukti kebesaran Tuhan dan dilanjutkan dengan mengumandangkan shalawat yang dipandu oleh Kepala Bagian Hubungan Masyarakat LAPAN, Jasyanto. Namun ada rasa ketidakpuasan sebagian masyarakat karena pemandangan langit saat terjadi gerhana di Palembang kurang bisa dinikmati karena sesekali terselimuti awan yang berarak. Aktifitas Gerhana Matahari Total berakhir sekitar pukul 08.31 WIB dan waktu ini tidak berbeda dengan perkiraan yang sudah disampaikan sebelumnya oleh para ahli.
Setelah fenomena gerhana matahari telah berlalu, masyarakat mengunjungi bazar dan pameran yang telah disediakan Pemprov Sumsel. LAPAN berkontribusi dengan menampilkan mini planetarium dan tampilan miniatur pesawat hasil riset LAPAN, seperi LSU 03 dan N219 beserta penjelasannya. Animo masyarakat sangat antusias dalam menyaksikan pertunjukan film yang disajikan mini planetarium LAPAN.