Kepala LAPAN Amati GMT 2016 di Parigi Moutong
Penulis Berita: T. Djamaluddin, Fotografer: Humas/ZAK, Tanggal: 15 Mar 2016

Setelah sekian lama menanti, waktu terjadinya Gerhana Matahari Total (GMT) pun tiba. Rabu (09/03), menjadi hari yang ditunggu-tunggu Kepala LAPAN, Prof.Dr. Thomas Djamaluddin, untuk menyongsong terjadinya GMT dengan melakukan serangkaian kegiatan. Pada kesempatan ini, Kepala LAPAN melakukan pemantauan gerhana di salah satu wilayah lintasan jalur GMT, yakni Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

Satu fase yang membuat lega pun akhirnya terlalui. Pagi itu, Cuaca di lokasi Sail Tomini cukup cerah dengan sedikit awan melintas. Rasa khawatir akan kendala cuaca pun sirna. Kegiatan pengamatan GMT berlangsung dengan lancar. Acara diawali dengan shalat gerhana dengan imam Prof. Dr. Said Agil Husin Al-Munawar, Menteri Agama 2001-200 dan Khatib Kepala LAPAN. Di area yang pernah menjadi lokasi Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Provinsi Sulawesi Tengah ini, masyarakat berkumpul, berdoa bersama, menyambut peristiwa yang langka terjadi ini.



Pada kegiatan pengamatan di sini, LAPAN membagikan sejumlah 500 kacamata gerhana. Setelah Said Agil menjelaskan tata cara sholat gerhana, dalam khutbahnya Kepala LAPAN menuturkan tentang waktu gerhana dan tata cara pengamatannya. “Agar aman untuk melihat gerhana matahari secara langsung, upayakan dengan berhati-hati, dengan cara melihat hanya sepintas, jangan terlalu lama. Untuk itu gunanya kacamata gerhana agar dapat digunakan secara bergantian,” ungkap Thomas mengarahkan kepada jamaah sholat gerhana, agar kesehatan mata mereka tetap terjaga. Sholat gerhana sendiri dimulai ketika fase awal piringan bulan mulai menutupi matahari.

Menurut penjelasan Kepala LAPAN, kontak pertama piringan bulan menutup piringan matahari terjadi pada pukul 07.28 WITA dan berakhir pukul 10.01 WITA. Fase total ditunjukkan persis pada perhitungan waktu 08.38.37 – 08.40.00 (totalitas sekitar 1,5 menit). Dalam pengamatannya, Kepala LAPAN menjelaskan, pada pukul 07.30 WITA, sisi kanan atas matahari mulai tertutup bulan. Untuk melakukan pemantauan bersama, masyarakat dapat menyaksikan melalui layar lebar yang menampilkan perkembangan gerhana. Masyarakat mengamati gerhana secara langsung dengan kacamata gerhana dan melihat citra gerhana dari kamera yang tersedia.

Mendalami proses GMT sangat mengasyikkan. Fase tersebut digambarkan saat jam menunjukkan pukul 08.37 WITA, dengan kondisi piringan matahari makin menipis, nampak cahaya sangat menyilaukan, dan dalam hitungan detik lingkaran yang berbentuk seperti cincin tersebut makin meredup. Tepatnya, pukul 08.38.37 tampak bulan menutupi matahari. Matahari tampak seperti cincin permata (diamond ring) karena menyisakan celah cahaya terang di lembah bulan, sebelum bulan menutup sempurna.

Suasana yang semula senyap tiba-tiba berubah menjadi riuh oleh teriakan orang-orang yang menyaksikan. Ribuan orang menjadi saksi kejadian alam yang menakjubkan tersebut. Mereka mengumandangkan kebesaran sang pencipta. “Allahu Akbar (Allah Mahabesar)! Subhanallahu (Allah Mahasuci),” ucapnya. Orang-orang bertakbir dan bertasbih berulang-ulang.

Di langit terpampang korona matahari yang tidak pernah terlihat sebelumnya. Menyaksikan ini, Kepala LAPAN mengaku terharu, sampai-sampai menitikkan air mata. “Saya memperoleh kesempatan ketiga kalinya menyaksikan korona matahari yang proses munculnya luar biasa indahnya. Pertama, kejadian 18 Maret 1988 di Bangka, selanjutnya tanggal 24 Oktober 1995 terjadi di Tahuna,” paparnya. Untuk mengabadikan kejadian kali ini, sesekali ia melakukan pengambilan gambar menggunakan kamera DSLR yang selalu melekat di tubuhnya. Ia juga mengisahkan, sambil memperlihatkan hasil bidikan kameranya, pada saat itu, Planet Venus tampak cemerlang di langit. Bahkan Planet Merkurius pun ikut terekam.

Satu setengah menit sungguh waktu yang luar biasa dan sangat berkesan. Proses GMT akhirnya sukses diabadikan setiap orang yang mendokumentasikan di wilayah tersebut. Proses kegiatan pengamatan GMT oleh peneliti LAPAN dilakukan dengan menggunakan teleskop. Mereka merekam pergerakan gerhana tahapan demi tahapan, mulai dari rangkaian gerhana sebagian pra-total, munculnya cincin permata pertama, GMT, cincin permata terakhir, sampai dengan gerhana sebagian pasca-total.