Penandatanganan Dokumen Master Plan Lembaga Litbang: PUI Sebagai Ujung Tombak Inovasi Penelitian di Indonesia
Penulis Berita: Humas/EN, Fotografer: Humas/EN, Tanggal: 26 Dec 2016

Kamis (22/12), berlangsung serangkaian kegiatan bertajuk “Apresiasi Lembaga Penelitian dan Pengembangan Tahun 2016, Deklarasi Pusat Unggulan Iptek 2016, Apresiasi BPPD Berkinerja Utama 2016, serta Penyerahan Sertifikat Akreditasi Pranata Litbang” di Kantor BPPT, Jakarta Pusat. 

Kegiatan diselenggarakan Dirjen Kelembagaan Iptek dan Dikti, Kemenristekdikti. Kegiatan ini dilaksanakan untuk memberikan apresiasi bagi para peneliti yang telah menghasilkan inovasi, baik hasil penelitian K/L, perguruan tinggi, pranata litbang, BPPD berkinerja utama, serta penyerahan sertifikat kepada pimpinan industri yang telah menggunakan hasil inovasi penelitian para peneliti. 

Menristekdikti, Prof. Dr. Mohamad Nasir hadir dalam acara tersebut. Sejumlah pimpinan K/L, Kepala Daerah, Rektor, pimpinan perusahaan, dan para peneliti juga menghadirinya. 

Pada kesempatan tersebut, Kepala Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA), Halimurahman, Kepala Pusat Teknologi Satelit (Pusteksat), Abdul Rahman, dan Kepala Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh (Pusfatja), Dr. M. Rokhis Komaruddin, serta beberapa Kepala Satker dari berbagai lembaga menandatangani Dokumen Master Plan Lembaga Litbang bagi lembaga yang di bina sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) 2016 – 2018. 

Sebagai informasi, PUI telah dikembangkan sejak 2010, dengan meningkatkan kompetensi lembagal itbang melalui empat sisi. Empat sisi tersebut adalah kemampuan lembaga litbang untuk menyerap informasi dan teknologi, kegiatan R&D, diseminasi hasil-hasil riset, dan kemampuan lembaga litbang untuk mengembangkan kegiatan litbang berbasis potensi sumberdaya lokal.

Dalam sambutannya, Menristekdikti mengatakan, ke depan, PUI di suatu lembaga harus diberikan apresiasi yang tinggi. Menurutnya, jika PUI suatu lembaga sudah mapan, bahkan punya lebih dari satu PUI, maka diharapkan teknologinya bisa didorong untuk menjadi Pusat Tekno Park, atau Tekno Park lembaga. LPNK harus bisa didorong untuk menjadi Tekno Park. “Hal ini adalah suatu usaha untuk mensinergikan antara riset dan inovasi,” jelasnya.

Saat ini, riset yang dilakukan belum banyak yang dimanfaatkan oleh industri. Hal ini sangat penting agar hasil inovasi bisa dimanfaatkan pada inovasi industri di Indonesia. Menteri mengatakan, penelitian di Indonesia harus sudah sampai pada tahap hilirisasi. Maka, beberapa bidang penelitian jangan sampai i terjadi redadensi, sehingga dapat menghasilkan mutu yang lebih baik. 

Kendala saat ini, banyak pengusaha merasa kesulitan untuk mendapatkan hasil inovasi dari para peneliti, terutama bidang makanan. Menurutnya, industri yang maju dan berkembang adalah yang bisa memanfaatkan hasil inovasi para peneliti. Sementara di sisi lain, para peneliti mengalami kesulitan bagaimana inovasi yang dihasilkan bisa dimanfaatkan dan dimasyarakatkan, serta menyelaraskan dengan kebutuhan industri. “Untuk itulah, PUi dibentuk untuk menjawab persoalan itu!” tegasnya.

Kegiatan disemarakkan dengan pameran hasil penelitian di bidang pertanian, perikanan, obat-obatan, budidaya tanaman obat, budidaya perikanan dan penelitian di bawah binaan PUI. Pada kesempatan ini, Pusteksat turut berpartisipasi dengan menampilkan bahan informasi Satelit LAPAN A3/LAPAN-IPB, Monitoring kapal dengan menggunakan AIS, sedangkan PSTA menampilkan bahan informasi Sistem Embaran Maritim (Semar), Satelit Disaster Early Warning System (Sadewa), Sistem Pemantauan Hujan (Sentanu), dan Srikandi.