Peneliti Ionosfer Tukar Pikiran dalam ISELION 2018
Penulis Berita: Humas/Sgd, Fotografer: Humas/Sgd, Tanggal: 05 Mar 2018

International School on Equatorial and Low Latitude Ionosphere (ISELION 2018) diselenggarakan mulai Senin 5 Maret 2018 hingga 9 Maret 2018. Kegiatan ini berlangsung di Assessment Center Building, National Institute of Public Administration (LAN), Jatinangor. Acara ini dihadiri peneliti dari berbagai negara seperti Indonesia, Jepang, India, Mesir, Malaysia, Nepal, dan Vietnam. 

Dalam sambutan pembukaan, Senin (5/3), Kepala Bidang Diseminasi Pusat Sains Antariksa (Pussainsa) LAPAN, Dr. Emanuel Sungging, mengatakan bahwa ini adalah kedua kalinya Indonesia menjadi tuan rumah ISELION, sebelumnya pada 2017. 

Kepala Pussainsa, Clara Y. Yatini, mengatakan bahwa LAPAN menyelenggarakan acara ini untuk meningkatkan pengetahuan para peneliti mengenai ionosfer. “Indonesia sebagai negara kepulauan yang berada di wilayah khatulistiwa mempunyai peran penting dalam kajian ionosfer,” ujarnya.

Ia melanjutkan, acara ini merupakan kesempatan bagi peneliti bidang terkait dari Indonesia untuk meningkatkan interaksi dan kerja sama dengan peneliti dari mancanegara. Clara juga mengenalkan bahwa di Sumedang juga terdapat Balai Pengamatan Antariksa dan Atmosfer yang meliputi pengamatan matahari, geomagnetik, dan ionosfer. 

Dalam acara tersebut, Deputi Bidang Sains Antariksa dan Atmosfer LAPAN, Afif Budiyono mengatakan bahwa ionosfer saat ini penting dalam penerapan teknologi modern seperti navigasi dan komunikasi. Oleh karena itu, peran aktif Indonesia akan sangat diperlukan dalam kegiatan keantariksaan modern. 

Kegiatan ini didukung juga oleh sejumlah lembaga penelitian internasional seperti NICT, ISEE, STEL, JSPS dan VarSITI SCOSTEP. Sebanyak 40 siswa dari berbagai negara hadir untuk mengikuti kegiatan tersebut.