Melindungi Industri Dirgantara
Penulis Berita: Nuswantoro, Fotografer: , Tanggal: 12 Mar 2014



Menperin MS Hidayat mengatakan industri dirgantara yang memproduksi pesawat terbang akan terus dikembangkan dan dilindungi agar Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pesawat kecil untuk menghubungkan wilayah-wilayah yang sulit dijangkau melalui darat dan laut.

"Kami sangat mendukung industri dirgantara karena pengembangan industri tersebut akan menumbuhkan ratusan bahkan ribuan industri lainnya," ujarnya di sela-sela kunjungan kerja ke PT Dirgantara Indonesia, di Bandung, Jawa Barat, Jumat (7/3).

Menurut dia, kebutuhan pesawat di Indonesia sangat besar untuk menghubungkan berbagai daerah. Pemerintah pusat bersama PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan pemerintah daerah telah mendiskusikan spesifikasi kebutuhan pesawat yang bisa menghubungi daerah-daerah terpencil.

Oleh karena itu, katanya, pemerintah mendukung proyek pengembangan pesawat N219 berkapasitas 19 orang oleh PT DI, karena sesuai dengan kebutuhan di dalam negeri.

"Pesawat diperkirakan sudah bisa memenuhi komponen lokal 40 persen dan akan terus ditingkatkan menjadi 60 persen," katanya.

Hidayat berjanji bila komponen lokal pesawat itu sudah mencapai 60 persen, maka akan dilindungi dari persaingan dengan produksi sejenis buatan asing yang lokal kontennya rendah.

Selain Kemenperin, pemerintah melalui Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) juga mendukung lewat suntikan dana sebesar Rp400 miliar untuk melakukan riset dan pengembangan (R&D) pesawat N219.

PT DI akan bekerja sama dengan LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) untuk riset dan pengembangan N129 sebanyak empat prototipe pesawat yang akan diujicoba.

"Tahun ini, kami menganggarkan bantuan riset melalu LAPAN sebanyak Rp310 miliar tahun ini dan Rp90 miliar tahun depan," kata Menteri PPN/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana yang juga berkunjung ke PT DI.

VP Marketing PT DI, Arie Wibowo, mengatakan pihaknya membutuhkan dana riset dan pengembangan N219 sekitar Rp500 miliar. "Sisanya akan kami ambil dari hasil penjualan kami," katanya.

Selama ini BUMN strategis tersebut telah memproduksi dan memasarkan pesawat CN235, di samping helikopter, dan NC212, serta sejumlah komponen pesawat yang nilai ekspornya mencapai 25-30 juta dolar AS/tahun.

Sementara itu, Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT) Kemenperin Budi Darmadi mengatakan industri pesawat terbang akan menumbuhkan ratusan industri komponen.

"Saat ini ada sekitar 40-50 industri komponen yang berpotensi mampu mendukung pengembangan pesawat tersebut," katanya.

Pesanan Pesawat

BUMN strategis PTDI mendapat pesanan sekitar 100 pesanan pesawat N219 yang rencananya akan diproduksi tahun 2015 untuk transportasi udara di dalam negeri.

"Pesawat N219 baru akan kerjakan, didesain tahun ini, dan dirakit tahun depan. Targetnya akhir tahun 2015 sudah bisa terbang," kata Budi Santoso.

Ia mengatakan sebagian besar pesanan berasal dari maskapai di dalam negeri dan pemerintah daerah. Diakui Budi bahwa pesanan tersebut masih berupa nota kesepahaman (MoU). "Biasanya MoU dulu, kalau sudah terbang baru 'bikin' kontrak," ujarnya.

Ia mengatakan pesawat N219 yang mampu mengangkut penumpang sebanyak 19 orang, memiliki potensi yang besar di Indonesia. Ia memperkirakan kebutuhannya bisa mencapai 100-150 unit pesawat kecil.

"Target (penjualan) kami minimum 100 pesawat, terutama untuk domestik dulu, baru kemudian ekspor ke negara tetangga," kata Budi.

Ditambahkan VP Marketing PTDI Arie Wibowo, sampai saat ini pihaknya telah menandatangani 120 MoU yang terdiri dari 50 unit sudah pasti pesan dan 50 unit lagi masih potensi beli, serta 20 unit pesanan PT Merpati Nusantara yang kini sedang tidak beroperasi.

"Pesawat N219 ini sangat bersaing harganya dengan pesawat sejenis Twin Otter dan Cessna Caravan," katanya.

Harga N219, lanjut dia, hanya sekitar 4-5 juta/unit, sementara Twin Otter dan Cessna Caravan bisa mencapai 6-7 juta/unit.

Menurut Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Budi Darmadi pesawat N219 sangat cocok dengan kondisi di Indonesia yang membutuhkan penerbangan jarak pendek dengan landasan kecil.

"Awalnya pesawat ini didesain untuk Papua yang alamnya banyak pegunungan, dan sulit ditembus transportasi darat," katanya.

Pesawat tersebut, kata dia, hanya membutuhkan landasan pacu sekitar 500 meter, sehingga cocok untuk penerbangan perintis yang jarak tempuhnya paling lama dua jam.

Dalam sebuah kesempatan Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan bahwa PT DI telah mencatatkan sejarah baru sebagai perusahaan yang paling sibuk. Kondisi ini berbeda pada saat zaman Orde Baru, ujarnya saat memberikan kuliah umum bertema Agen Perubahan, di Gedung Roedhiro Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Agustus, tahun lalu. Bahkan, PT DI sempat mengalami masa sulit ketika terjadi krisis moneter di tahun 1998.

Tetapi dalam kurun tiga tahun terakhir, lanjut dia, PT DI mampu membuat 65 helikopter dan ke depan akan membuat pesawat jenis C-295 yang saat ini masih dirakit di Spanyol oleh orang-orang Indonesia. Menurut dia, PT DI juga memproduksi suku cadang pesawat terbang yang dipesan sejumlah perusahaan asing.

PT DI memiliki anak usaha di Amerika yaitu IPTN North America (INA Inc.), berlokasi di Seattle, Amerika Serikat. Usaha yang dilakukan adalah menjadi pemasok komponen pesawat terbang tidak hanya untuk PT Dirgantara Indonesia tapi juga untuk perusahaan pembuatan pesawat di negara-negara lain. Tercatat sudah tiga tahun ini Ina Inc bisa mandiri dan tidak mendapat subsidi dari induknya di Bandung. N Nus/Ant


Sumber :
http://www.jurnas.com/halaman/21/2014-03-12/291547